Tempat Wisata di Aceh
Aceh menyimpan ribuan pesona yang siap memikat hatimu. Provinsi yang berjuluk “Serambi Mekah” ini menawarkan pengalaman liburan tak terlupakan melalui beragam tempat wisata di Aceh yang memadukan keindahan alam, kekayaan sejarah, dan kearifan budaya yang masih sangat kental. Bukan hanya Bali atau Lombok, Aceh kini menjelma sebagai destinasi impian bagi para pelancong domestik maupun mancanegara. Kamu bisa menjelajahi jejak kejayaan masa lalu, menyaksikan langsung bukti dahsyatnya tsunami 2004, hingga berendam di pantai berpasir putih dengan air sebening kristal. Semua pengalaman itu menanti di ujung barat Indonesia.
Tempat Wisata di Aceh wajib dikunjungi
Kota Banda Aceh menjadi pintu gerbang utama sebelum kamu menjelajahi provinsi ini. Banyak tempat wisata di Aceh yang justru terpusat di ibu kota provinsi ini.
1. Masjid Raya Baiturrahman
Tidak ada yang lebih ikonik di Banda Aceh selain Masjid Raya Baiturrahman. Bangunan dengan tujuh kubah hitam dan menara putih yang menjulang ini berdiri megah di jantung kota. Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid ini merupakan simbol kebanggaan, ketahanan, dan identitas masyarakat Aceh.
Saat kamu melangkahkan kaki ke halaman luasnya, kamu akan merasakan atmosfer damai yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kolam panjang di depan masjid memantulkan bayangan kubah-kubah indah, menciptakan pemandangan yang sangat fotogenik, terutama di pagi atau senja hari. Arsitekturnya yang memadukan gaya Mughal dan Eropa membuat mata dimanjakan oleh detail-detail ukiran yang artistik.
Masjid Raya Baiturrahman menyimpan kisah heroik. Dibangun pertama kali pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636), masjid ini menjadi markas pertahanan rakyat Aceh saat perang melawan Belanda (1873-1904). Dalam Agresi Militer Belanda II tahun 1873, masjid ini dibakar habis. Namun, enam tahun kemudian, sebagai upaya meredam kemarahan rakyat, Belanda membangunnya kembali. Hingga kini, masjid ini telah beberapa kali direnovasi dan diperluas, namun tetap mempertahankan kemegahan dan nilai sejarahnya.
Yang lebih mengagumkan, saat tsunami dahsyat 2004 meluluhlantakkan Banda Aceh, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri kokoh. Air bah memang masuk ke dalam area masjid, tetapi bangunan utamanya tidak runtuh. Masyarakat Aceh memaknai ini sebagai bentuk perlindungan Ilahi, semakin mengukuhkan masjid ini sebagai simbol spiritual yang tak tergoyahkan.
2. PLTD Apung dan Kapal di Atas Rumah
Bayangkan sebuah kapal pembangkit listrik berbobot 2.600 ton yang terdampar di tengah-tengah permukiman padat penduduk, berjarak sekitar 3 kilometer dari garis pantai. Itulah PLTD Apung, salah satu monumen tsunami yang paling banyak dikunjungi wisatawan.
Pada pagi naas 26 Desember 2004, kapal milik PLN ini sedang bersandar di pelabuhan. Gelombang raksasa menghempaskannya, membawanya terbawa arus sejauh hampir 3 kilometer, dan akhirnya mendarat di antara rumah-rumah warga di Kelurahan Punge, Kecamatan Meuraxa.
Melihat langsung kapal raksasa ini dari dekat akan memberimu perspektif nyata tentang betapa dahsyatnya energi tsunami saat itu. Kamu bahkan bisa naik ke atas kapal dan melihat pemandangan sekeliling dari deknya. Bangunan ini kini menjadi museum kecil dan simbol bagaimana sesuatu yang seharusnya terapung di laut bisa berakhir di tengah kota.
Tidak jauh dari pusat kota, tepatnya di Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, terdapat situs unik lainnya. Sebuah kapal nelayan berbobot sekitar 180 ton terdampar di atas rumah seorang warga. Rumah di bawah kapal tersebut hancur total, namun kapalnya tetap bertengger di sana hingga kini.
Situs ini menjadi simbol ketabahan warga Lampulo. Saat ini, pemerintah kota menjadikannya sebagai objek wisata edukasi. Melihat kapal di atas rumah akan membuatmu merenung sejenak, membayangkan bagaimana dahsyatnya arus yang mampu mengangkat benda seberat itu dan menempatkannya di atap bangunan.
3. Museum Tsunami
Bencana tsunami 26 Desember 2004 adalah luka mendalam yang tak akan terlupakan oleh masyarakat Aceh. Namun, dari tragedi yang merenggut lebih dari 200 ribu jiwa di kawasan Samudra Hindia ini, lahir semangat kebangkitan yang luar biasa. Museum Tsunami Aceh berdiri sebagai monumen peringatan sekaligus pusat edukasi mitigasi bencana yang penting.
Didesain oleh arsitek Ridwan Kamil, bangunan museum ini sarat makna. Bentuknya yang melengkung menyerupai gelombang tsunami sekaligus seperti tumpukan batang pinang (struktur rumah tradisional Aceh).
Saat memasuki museum, kamu akan melewati lorong sempit dan gelap dengan suara gemuruh air yang menderu. Ini didesain untuk memberikan sensasi dan gambaran tentang situasi mencekam saat tsunami menerjang. Dinding memorial yang diukir dengan nama-nama korban, ruang doa yang hening, serta pameran foto-foto dokumenter akan mengajakmu merenung dan merasakan langsung skala dahsyatnya bencana tersebut.
Museum ini bukan hanya tentang kesedihan, tetapi juga tentang pembelajaran dan harapan. Kamu bisa melihat berbagai inovasi teknologi mitigasi bencana dan bagaimana masyarakat Aceh bangkit membangun kembali kehidupan mereka. Museum ini juga berfungsi sebagai tempat evakuasi darurat jika suatu saat tsunami kembali terjadi.
4. Gunongan dan Pinto Khop
Beranjak dari cerita duka tsunami, mari menyusuri kisah cinta dari masa kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam. Gunongan terletak di kawasan Taman Sari, tepatnya di Jalan Teuku Umar, berhadapan dengan kompleks pemakaman tentara Belanda Kerkhoff.
Sultan Iskandar Muda membangun Gunongan pada abad ke-17 sebagai hadiah untuk permaisurinya yang cantik jelita, Putri Pahang atau Putroe Phang. Sang permaisuri sering merasa rindu dengan perbukitan di kampung halamannya di Malaysia. Untuk menghilangkan kegundahan sang istri, Sultan memerintahkan pembangunan gunung buatan kecil yang bisa dipanjat oleh Putri Pahang bersama dayang-dayangnya.
Bentuk Gunongan unik, bersegi enam seperti bunga dengan tiga tingkat. Di puncaknya terdapat mahkota tiang yang berdiri tegak. Bangunan ini menjadi simbol cinta abadi Sultan kepada permaisurinya.
Tak jauh dari Gunongan, terdapat Pinto Khop. Pintu gerbang berkubah ini merupakan penghubung antara Istana Sultan dengan Taman Putroe Phang. Konon, di sinilah Putri Pahang dan para dayang menghabiskan waktu setelah berenang atau mandi bunga. Mereka membilas rambut di tempat ini sambil bersantai menikmati taman.
5. Taman Sari dan Taman Putroe Phang
Kawasan Taman Sari kini menjadi ruang publik yang asri dan ramai dikunjungi warga. Pemerintah kota menata taman ini dengan apik. Rumput hijau terhampar rapi, tanaman hias mempercantik sudut-sudut taman, dan ada arena bermain gratis untuk anak-anak. Tersedia pula akses internet gratis, menjadikan tempat ini favorit bagi kaum muda.
Di kawasan yang sama, Taman Putroe Phang menawarkan nuansa berbeda. Danau buatan dengan air mancur di tengahnya menciptakan suasana romantis. Banyak pasangan muda menghabiskan waktu di sini sambil menikmati semilir angin sore.
6. Makam Sultan Iskandar Muda
Masih di Banda Aceh, kamu bisa berziarah ke Makam Sultan Iskandar Muda. Tokoh terbesar dalam sejarah Aceh ini dimakamkan di kompleks yang tak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman. Sultan yang memerintah antara tahun 1607 hingga 1636 ini berhasil membawa Kerajaan Aceh Darussalam menjadi salah satu dari lima kerajaan Islam terbesar di dunia pada abad ke-16.
Di bawah kepemimpinannya, Banda Aceh menjelma menjadi bandar niaga internasional yang ramai dikunjungi pedagang dari Arab, Turki, India, hingga Eropa. Kawasan Selat Malaka saat itu menjadi jalur pelayaran tersibuk di dunia.
Makam ini hingga kini masih ramai dikunjungi peziarah. Banyak cerita tentang keadilan dan kebijaksanaan Sultan yang diwariskan turun-temurun. Konon, Sultan tak segan menghukum mati putra kandungnya sendiri yang bernama Meurah Pupok karena terbukti berselingkuh dengan istri orang. Hukuman tegas ini menjadi bukti bahwa Sultan menjunjung tinggi keadilan tanpa pandang bulu.
7. Menjelajahi Jejak Sejarah Lainnya
Banda Aceh memang kaya akan peninggalan sejarah. Selain destinasi di atas, kamu juga bisa mengunjungi Kerkhoff Peutjoet, kompleks pemakaman tentara Belanda terluas di luar Belanda. Sekitar 2.200 tentara Belanda beserta empat jenderal dimakamkan di sini sejak tahun 1883 hingga 1940-an. Termasuk di antaranya prajurit Marsose dari Ambon, Manado, dan Jawa. Gerbang makam ini dihiasi relief nama-nama serdadu yang gugur dalam Perang Aceh.
Replika Pesawat Seulawah RI-1 di Lapangan Blang Padang juga layak masuk daftar kunjunganmu. Pesawat ini menjadi bukti nyata dukungan rakyat Aceh terhadap perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Masyarakat dan saudagar Aceh mengumpulkan harta pribadi setara 25 kilogram emas untuk membeli pesawat seharga USD 120.000. Pesawat inilah yang menjadi cikal bakal maskapai Garuda Indonesia Airways. Presiden Soekarno kala itu menyebut Aceh sebagai “Daerah Modal” bagi Republik Indonesia.
Jika kamu tertarik pada wisata religi, sempatkan mengunjungi Makam Syiah Kuala. Ulama besar Aceh ini dimakamkan di kawasan Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala. Syiah Kuala atau Abdurrauf bin Ali al-Fansuri adalah seorang ulama besar yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Pesona Wisata Bahari di Aceh Besar dan Sekitarnya
Keluar dari Banda Aceh, kamu akan menemukan lebih banyak lagi tempat wisata di Aceh yang memukau.
1. Pantai Lampuuk dan Lhoknga
Hanya sekitar 30 menit berkendara dari pusat kota Banda Aceh, kamu akan tiba di Pantai Lampuuk dan Lhoknga. Kawasan ini terkenal dengan ombaknya yang menantang bagi para peselancar .
Pantai Lampuuk menawarkan pasir putih yang lembut dan air laut biru jernih. Di sini terdapat sebuah bukit kecil dengan 250 anak tangga menuju sebuah kafe di puncaknya. Dari ketinggian, pemandangan laut lepas terhampar luas. Tempat ini cocok untuk bersantai sambil menikmati kopi Aceh.
Pantai Lhoknga memiliki karakter berbeda. Pasirnya cenderung hitam karena kandungan mineral vulkanik. Ombaknya besar dan cocok untuk surfing. Setelah tsunami 2004, kawasan ini benar-benar hancur, namun kini bangkit kembali dengan berbagai fasilitas wisata baru.
Di kawasan Lhoknga, tepatnya di Desa Naga Umbang, terdapat destinasi baru bernama Teupin Balok. Tempat ini berupa kolam aliran air pegunungan dengan air hijau kebiruan yang jernih. Suasana di sini sangat tenang, cocok untuk melepas penat. Kamu bisa menyewa perahu kano kecil untuk menyusuri sungai sambil menikmati rimbunnya pepohonan di kiri-kanan.
2. Desa Wisata Gampong Nusa dan Teupin Batee
Jika kamu mencari pengalaman wisata berbeda, datanglah ke Gampong Nusa di Aceh Besar. Desa ini hancur total saat tsunami 2004, namun kini bangkit menjadi desa wisata terbaik di Aceh bahkan meraih penghargaan ASEAN Tourism Awards 2023-2025 .
Di Gampong Nusa, kamu bisa tinggal di homestay milik warga dengan biaya sekitar Rp90 ribu per malam. Kamu akan merasakan langsung kehidupan masyarakat desa, tidur di rumah panggung khas Aceh, dan menikmati hidangan tradisional yang diantar menggunakan tudung saji. Pengalaman ini disebut sebagai wisata slow living yang sedang populer di kalangan anak muda.
Warga desa menyiapkan berbagai aktivitas menarik. Kamu bisa mengikuti cooking class memasak makanan khas Aceh, ikut let tuloe atau mengejar burung pipit di sawah, atau belajar membuat kerajinan anyaman rotan. Produk anyaman ini bisa kamu jadikan buah tangan khas dari Gampong Nusa.
Tak jauh dari sana, ada Desa Teupin Batee yang juga menawarkan pengalaman serupa. Pemandangan persawahan hijau dan peternakan warga menjadi daya tarik utama. Suasana pedesaan yang masih asri akan membuatmu betah berlama-lama.
3. Pantai Ulee Lheue
Kembali ke Banda Aceh, jangan lewatkan Pantai Ulee Lheue. Pantai ini berada tepat di kawasan pelabuhan feri yang menghubungkan Banda Aceh dengan Pulau Weh, Sabang. Matahari terbenam di sini sungguh memesona. Langit jingga berpadu dengan laut dan siluet kapal-kapal yang bersandar menciptakan pemandangan romantis.
Di pantai ini juga terdapat Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, satu-satunya bangunan yang selamat dari amukan tsunami 2004. Sementara bangunan lain di sekitarnya rata dengan tanah, masjid kecil ini tetap berdiri kokoh. Di halaman masjid, terdapat kuburan massal korban tsunami. Ratusan jenazah yang tak teridentifikasi dimakamkan di sini.
Menyusuri Keindahan Alam di Luar Banda Aceh
Jika waktu liburanmu panjang, jelajahi destinasi lain di Aceh yang tak kalah menakjubkan.
1. Hutan Mangrove Langsa
Di Kota Langsa, tepatnya di kawasan Kuala Langsa, terdapat Hutan Mangrove Langsa yang menjadi ikon wisata populer. Kawasan ini merupakan salah satu hutan mangrove terlengkap di dunia dengan 38 jenis spesies bakau. Hamparan pohon bakau yang hijau menciptakan pemandangan indah dan suasana tenang.
Kamu bisa berjalan santai di jembatan kayu panjang sambil menikmati udara segar khas hutan bakau. Spot fotonya sangat banyak dan instagramable. Selain sebagai objek wisata, tempat ini juga menjadi sarana edukasi bagi pelajar dan peneliti yang ingin mempelajari ekosistem mangrove.
2. Pesona Pesisir Barat Aceh
Pesisir barat Aceh membentang dari Aceh Jaya hingga Aceh Singkil. Kawasan ini menyimpan keindahan alam yang belum banyak tersentuh tangan manusia. Pasir putih yang lembut, lautan biru jernih, serta budaya dan kuliner khas yang menggoda selera menjadi daya tarik utama.
Pantai Lhok Geulumpang di Aceh Jaya menawarkan suasana tenang dengan hamparan pasir putih dan laut biru. Karena belum banyak wisatawan, pantai ini cocok bagi pencari ketenangan. Matahari terbenam di sini menciptakan pemandangan yang begitu menawan.
Di Meulaboh, Aceh Barat, ada Pantai Suak Ribee. Pantai ini menjadi ikon wisata kota Meulaboh. Letaknya strategis tak jauh dari pusat kota. Di sepanjang bibir pantai, berjajar warung kopi yang menyajikan kopi khas Meulaboh dengan panorama laut lepas.
3. Wisata Alam di Subulussalam
Di ujung tenggara Aceh, Kota Subulussalam menyimpan permata tersembunyi bernama Sikelang. Destinasi wisata alam di Kecamatan Penanggalan ini hanya berjarak 10 menit dari pusat kota. Kamu bisa menikmati aliran jernih Sungai Lae Kombih, berfoto di jembatan gantung yang instagramable, berenang di kolam renang, atau bermain di area anak-anak.
Sikelang juga terkenal sebagai destinasi arung jeram. Pada akhir pekan, ratusan pengunjung memadati tempat ini. Tiket masuknya gratis di hari biasa, menjadikannya pilihan ekonomis untuk liburan singkat.
Tips Praktis Berwisata di Aceh
Supaya liburanmu makin menyenangkan, perhatikan tips-tips berikut:
1. Transportasi dan Akomodasi
Untuk menjelajahi Banda Aceh dan sekitarnya, menyewa skuter adalah pilihan paling praktis. Biaya sewa berkisar antara Rp80 ribu hingga Rp150 ribu per hari. Kamu juga bisa menggunakan aplikasi pemesanan daring seperti Grab atau ojek lokal untuk perjalanan singkat.
Untuk akomodasi, pilihlah guesthouse atau penginapan di sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Harganya lebih bersahabat dibanding hotel berbintang. Jika ingin ke Pulau Weh, homestay di pesisir pantai bisa kamu dapatkan dengan harga di bawah Rp200 ribu per malam.
2. Kuliner Khas yang Wajib Dicoba
Berwisata di Aceh tak lengkap tanpa mencicipi kulinernya. Mie Aceh dengan kuah kari pedas dan topping daging kepiting atau sapi menjadi primadona. Kamu bisa menemukan mie aceh autentik di Mie Razali Banda Aceh atau di warung-warung pinggir jalan.
Nasi Gurih dengan ayam tangkap menjadi menu sarapan favorit. Ayam tangkap adalah ayam goreng yang disajikan dengan rempah dan daun temurui yang digoreng garing. Harganya sangat terjangkau, di bawah Rp20 ribu.
Jangan lewatkan kopi Aceh yang terkenal nikmat. Di warung kopi, kamu bisa memesan kopi sanger, yaitu kopi susu dengan campuran kental manis. Harganya hanya sekitar Rp5 ribu per cangkir. Sambil ngopi, cicipi juga sate matang, sate khas Matang dengan bumbu kacang yang gurih.
3. Etika dan Budaya
Aceh menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Saat berkunjung, kenakan pakaian yang sopan dengan menutup bahu dan lutut, terutama saat memasuki kawasan masjid atau tempat ibadah.
Hormati waktu ibadah. Pada hari Jumat sekitar pukul 12.00 hingga 14.00, beberapa tempat wisata tutup sementara karena umat Muslim melaksanakan salat Jumat. Beberapa toko juga tutup pada waktu ini.
Pelajari beberapa frasa sederhana dalam bahasa Aceh. Ucapkan “Peue haba?” untuk menyapa, atau “Terima kasih” untuk berterima kasih. Penduduk lokal akan sangat senang jika kamu berusaha berkomunikasi dengan bahasa mereka.
3. Oleh-Oleh Khas Aceh
Sebelum pulang, sempatkan berbelanja oleh-oleh di Pasar Aceh. Kamu bisa membeli minyak nilam Aceh yang terkenal berkualitas, kain songket tenun khas Pidie, atau kopi keurupu yang mudah dibawa bepergian. Harganya bisa kamu tawar dengan memulai penawaran dari 50 persen harga awal.
Bagikan artikel Tempat Wisata di Aceh ini kepada teman-teman yang juga ingin merasakan pesona Aceh. Karena keindahan akan terasa lebih bermakna ketika kita berbagi.
Aceh bukan hanya tujuan wisata, tetapi juga guru kehidupan yang mengajarkan arti ketabahan dan keindahan dalam setiap sudutnya. (Allya)
Referensi:
- https://dpmg.bandaacehkota.go.id/data/objek-wisata/
- https://kemenpar.go.id/berita/wisata-pulau-pulau-cantik-di-aceh-yang-wajib-dikunjungi
- https://acehtimurkab.go.id/halaman/pariwisata
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Tempat Wisata di Aceh
1. Apa saja tempat wisata di Aceh yang wajib dikunjungi?
Destinasi wajib di Aceh meliputi Masjid Raya Baiturrahman, PLTD Apung, Museum Tsunami, Gunongan, dan Makam Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh. Untuk wisata alam, kunjungi Pantai Lampuuk, Pulau Weh di Sabang, Hutan Mangrove Langsa, atau desa wisata Gampong Nusa yang meraih penghargaan ASEAN.
2. Kapan waktu terbaik untuk liburan ke Aceh?
Waktu terbaik mengunjungi Aceh adalah antara bulan Maret hingga Oktober ketika musim kemarau berlangsung. Hindari musim puncak liburan seperti Juni-Agustus jika kamu ingin menikmati destinasi dengan lebih tenang dan harga akomodasi yang lebih terjangkau.
3. Bagaimana cara menuju Pulau Weh dari Banda Aceh?
Kamu bisa menuju Pulau Weh dengan menaiki kapal cepat dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit. Kapal beroperasi setiap hari dengan jadwal yang bervariasi. Tiket bisa dibeli di loket pelabuhan.
4. Apakah aman berwisata di Aceh sebagai wanita solo traveler?
Aceh sangat aman untuk wanita solo traveler selama kamu menghormati budaya dan aturan setempat. Kenakan pakaian sopan, hindari bepergian sendirian di malam hari, dan selalu informasikan rencana perjalanan kepada pihak hotel atau keluarga. Masyarakat Aceh terkenal ramah dan suka membantu wisatawan.
5. Apa saja makanan khas Aceh yang wajib dicicipi?
Mie Aceh dengan kuah kari pedas menjadi ikon kuliner Aceh. Kamu juga wajib mencoba nasi gurih dengan ayam tangkap, sate matang, kuah beulangong, dan berbagai olahan ikan laut segar. Jangan lupa minum kopi sanger khas Aceh yang nikmat.




